Pendidikan

Pendidikan (3)

SIMPUH MALAM

(Abdul Malik al-Hasan)

 

Semesta bertasbih,

Ketika malam kering kerontang

mengikis sedih.

Menelan kegaduhan siang,

Mengunyah angkuhnya kebisingan.

 

Sunyi...

Makhluk rakus pun tak lagi bersua.

Terlelap dari kemerlap dunia.

 

Sepi...

Pencarian siang seolah tak lagi berarti

Melupakannya sejenak,

Serentak membaringkan diri.

 

Adakah yang tersadar?

Menengadah ke langit tinggi,

merendahkan lemahnya hati.

Maafkanlah siang,

bersiap kembali ke malam.

Siang penuh terselip dosa,

Malam hadir membawa mukjizat do’a.

 

Mengadu...

Berkeluh kesah pada-Nya

Simpuh khusyuk beralas sajadah,

Teteskan harap dalam setiap ucap.

Sehina apapun,

Tuhan mendengar do’a yang terhimpun.

 

(Parung, 11 September 2018)

 

*Penulis adalah Guru Pendamping kelas II A sekaligus P.Pembina Pramuka di SDT Bina Ilmu.

Instagram: @abdulmalik.alhasan

Facebook: Abdul Malik Al-Hasan

WWW.BIL.SCH.ID, IWUL-- Pohon pisang merupakan salah satu jenis tumbuhan asli endemik daratan Asia Tenggara yang hampir tersebar di seluruh dunia. Pohon yang memiliki buah yang kaya akan nutrisi ini pada umumnya digemari hampir seluruh manusia karena rasanya yang manis.
 
Berbicara mengenai pohon pisang ada filosofi yang dapat dipetik makna dan pelajaran bagi seorang tenaga pendidik dimana pohon yang rata-rata hidup singkat ini jarang sekali ketika proses pertumbuhan hingga akhirnya mati menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia buah yang dihasilkannya sangat bermanfaat untuk dikonsumsi!
 
Belajar dari pohon pisang yang pantang mati sebelum berbuah dapat dipetik hikmahnya bagi seorang guru dalam mendidik tunas-tunas bangsa. Kesabaran dan keikhlasan seorang guru kelak akan berbuah manis, manakala dikemudian hari sang guru menangis melihat anak didiknya menjadi seorang yang sukses dan  berhasil atau bahkan bangga ketika profesi yang digeluti para peserta didik sama dengan yang ia geluti. 
 
Makna pohon pisang ini yang pantang menyerah sebelum berbuah tak lain mengajarkan seorang guru bahwa kerja kerasnya suatu saat nanti akan menghasilkan generasi-generasi yang unggul di masyarakat yang tak lain adalah buah yang kelak akan dipetiknya saat panen raya tiba.[]
 
*) Penulis adalah Guru Kelas II-B, SDT Bina Ilmu, Parung, Bogor, Jawa Barat.

Tak bisa dipungkiri posisi sebagai guru menjadi aktor utama keteladanan bagi anak didiknya. Posisi ini sejatinya menjadi modal utama bagi seorang guru untuk pembentukan karakter dan revolusi mental genarasi penerus. Perkataan guru dan tindak-tanduknya di lingkungan lembaga pendidikan mapun di tengah-tengah masyarakat sangat ampuh buat si anak dibandingkan dengan orang tuanya di rumah. 
 
Memang tak mudah untuk mencari sosok yang bisa kita teladani di zaman tanpa batas ini. Kemajuan teknologi informasi yang berkembang sangat pesat tidak membuat kita semakin santun dan ramah serta menjadi sosok yang berkharisma. 
 
Rasanya sulit sekali mencari sosok yang bisa kita teladani dimasa kini. Apakah itu orang tua, pendidik dan para pemimpin negeri ini, tak mampu lagi, memberikan contoh teladan yang baik bagi generasi masa kini dan akan datang. 
 
Inilah tantangan terbesar yang dialami dunia pendidikan saat ini. Padahal melalui pendidikan dapat mengubah tatanan budaya dan akhlak sebuah generasi untuk kemajuan bangsa. Dengan keteladanan maka akan tumbuh pribadi-pribadi yang berkarakter unggul sebagai the winner bukan menjadi orang-orang yang the looser. 
 
Lantas apa yang harus dilakukan para pendidik baik di sekolah maupun di pondok pesantren untuk menghadapi gempuran budaya asing yang mengikis akhlak generasi muda Muslim? Mari kita mulai membuka kembali lembaran sejarah aktor guru teladan kelas dunia, Nabi Muhammad SAW.
 
Simaklah Firman Allah SWT, ''Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.''(Q.S. Al-Ahzab: 21)
 
Bagi seorang muslim apalagi dia sebagai pendidik wajib hukumnya meneladani Rasulullah SAW, termasuk dalam masalah pendidikan. Islam tidak akan menolerir model-model pendidikan yang meracuni anak didik dengan nilai-nilai kesyirikan, kekufuran, dan kerusakan akhlak. 
 
Di tengah dahsyatnya gempuran berbagai model pendidikan yang dijejalkan kepada kaum muslimin, keharusan untuk merujuk kepada apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW adalah suatu yang sangat penting. Maka, tiada pilihan lain bagi seorang Muslim kecuali menerapkan apa yang diajarkan Rasulullah SAW. 
 
Rahasia Rasulullah SAW sehingga beliau menjadi pendidik yang sukses yang utama model pendidikan yang diterapkan Rasulullah dengan menanamkan menyangkut masalah tauhid, mengenyahkan kesyirikan. Ajari dan pahamkan anak dengan masalah tauhid. Dengan menanamkan tauhid yang benar kepada anak didik maka akan tumbuh anak-anak yang memiliki keyakinan yang mantap. 
 
Maka itu seorang yang berprofesi sebagai guru bukan hanya bertugas mentranfrer ilmu pengetahuan, tetapi jauh lebih dari itu. Karena seorang anak didik apalagi pada tingkat dasar akan mencari figur untuk mereka tiru dan ikuti. Seorang guru harus menjadi panutan bagi para muridnya karena kata guru yang dalam bahasa sunda digugu dan ditiru yang artinya seseorang yang ditaati dan dicontoh segala perbuatan dan ucapannya. 
 
seorang guru dituntut untuk selalu baik dalam ucapannya dan perbuatan bukan hanya di depan anak didiknya tapi dalam kehidupan sehari-harinya, jadi apa yang diucapkan dan apa yang diperbuat mempunyai keselarasan.
 
Menurut pakar pendidikan menyatakan bahwa keteladanan adalah media pendidikan yang paling efektif dan berpengaruh dalam menyampaikan tata nilai kehidupan. Kita juga tahu apa yang di katakan oleh Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara dengan petuah dalam bahasa Jawa yang tidak asing dalam dunia pendidikan yaitu Ing ngarsa sung tulada (di depan seorang pendidik harus memberikan teladan). Ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid guru harus menciptakan ide atau prakarsa). Tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan). 
 
Inilah falsafah pendidikan yang harus dimiliki oleh semua guru di Indonesia. Senada dan seirama dengan yang diajarkan Rasulullah SAW 14 abad yang lalu. Mudah-mudahan segala tantangan yang dihadapi dalam dunia pendidikan saat ini bisa diatasi dengan kemauan dan kerja keras guru dalam mendidik generasi emas anak bangsa dengan bermodalkan keteladanan. Semoga terwujud. Amin. 
 
# Penulis adalah Guru dan Pendidik di Sekolah Dasar Terpadu (SDT) Bina Ilmu Parung, Bogor, Jawa Barat

One Day One Ayat

Rampak Bedug SDT Bina Ilmu